Manakala manusia berkeinginan melakukan besikan hati yang terlarang, maka wajib meninggalkan dan mohon ampun pada Allah SWT. Namun Apabila nafsu amarah bis su' (mengajak berbuat maksiat) tidak mau patuh untuk meninggalkannya, karena nafsu tersebut secara alami menyukai kesenangan-kesenangan yang terlarang, maka harus diperangi (mujahadah) agar tunduk kepa kita, dan dikerahkan segenap kemampuan untuk memeranginya dengan menantangnya. Karena nafsu itulah yang menjeremuskan pada kehancuran abadi, dengan cara beransur-ansur menarik kita dari satu kemaksiatan menuju kemaksiatan yang lain, hingga jatuh dalam kehancuran. Dalam arti, manakala nafsu amarah menggilas dan tidak bisa dibendung dengan mujahadah, maka kemaksiatan demi kemaksiatan akan berlangsung, hingga kehancuran abadi, yakni kekafiran ada di depan mata. dalam situasi semacam ini, nafsu adalah musuh paling berbahaya.
Rasulullah SAW bersabda:
اٙعْدٙى اٙعْدٙائِكٙ نٙفْسُكٙ الّٙتِي بٙيْنٙ جٙنْبِيْكٙ
Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang berada antara lumbungmu.
Sebaliknya, apabila bisikan hati yang terlarang terlanjur terealisasi, karena nafsu telah menguasai, maka harus segera dihentikan, agar dosa melakukan dapat dihilangkan dengan bertaubat. Allah SWT telah berjanji menerima taubat, sebagai anugerah dari-Nya.
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
Rasulullah SAW bersabda:
أٙكْثِرُوْا ذِكْرٙ هٙازِمِ اللّٙذّٙاتِ
Perbanyaklah dari mengingat pemutus kelezatan (yakni mati). H.R. Tirmizi.
Namun jika penyebab tidak segera dihentikannya kemaksiatan itu karena putus asa dari rahmat atau pengampunan Allah SWT yang disebabkan besarnya dosa, atau karena membayangkan siksaan Allah SWT,
Allah SWT berfirman:
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir (Q.S. Yusuf: 87)
Obat yang mujarab dalam hal ini dalah dengan mengingat keluasan kasih sayangnya Allah yang tanpa batas. agar tidak berputus asa dari pengampunan-Nya.
Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q. S. Az-Zumar: 53)
Rasulullah SAW bersabda:
والّٙذِي نٙفْسِي بِيٙدِهِ لٙوْ لٙمْ تُذْنِبُوْا لٙذٙهٙبٙ اللّٰهُ بِكُمْ وٙلٙجٙاءٙ بِقٙوْمٍ يُذْنِبُوْنٙ فٙيٙسْتٙغْفِرُوُنٙ اللّٰهٙ فٙيٙغْفِرُ لٙهُمْ
Demi Tuhan yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, andaikan kalian tidak berbuat dosa,pastilah Allah akan membinasakan kalian, dan pastiilah Allah akan mendatangkan kaum yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampunan, kemudian Allah mengampuni mereka (H.R. Muslim).
______________
Nafsu berbagi 4 Macam:
1. Nafsu Ammarah, yaitu nafsu yang selalu mengajak pada kemaksiataan, tidak pernah diperangi, mengikuti tuntutan syahwat dan ajakan syaithan.
2. Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang bersinar dengan cahaya hati, sesuai dengan kadar kesadaranyan. Manakala berbuat salah, dia akan mencaci nafsu dan bertaubat.
3. Nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang sempurna sinarnya dengan cahaya hati, hingga sifat-sifat tercela hilang, dan memakai akhlak-akhlak terpuji.
4. Nafsu Ruhaniyyah, yaitu nafsu yang condong pada perkara mubah, seperti rekreasi, mendengar suara indah, makan makanan enak. Prof. Dr. Sahal Mahfudz, Thariqah Al-Hushul, vol II, hal. 610.
Rasulullah SAW bersabda:
اٙعْدٙى اٙعْدٙائِكٙ نٙفْسُكٙ الّٙتِي بٙيْنٙ جٙنْبِيْكٙ
Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang berada antara lumbungmu.
Sebaliknya, apabila bisikan hati yang terlarang terlanjur terealisasi, karena nafsu telah menguasai, maka harus segera dihentikan, agar dosa melakukan dapat dihilangkan dengan bertaubat. Allah SWT telah berjanji menerima taubat, sebagai anugerah dari-Nya.
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-Nya (Q.S. Asy-Syura: 25)
Jika perbuatan maksiat tidak segera dihentikan karena menikmatinya, atau karena malas meninggalkannya, maka obatnya adalah mengingat kematian dan datang ajal yang secara tiba-tiba, karena mengingat yang demikian adalah pendorong yang kuat untuk menghentikan kemaksiatan.Rasulullah SAW bersabda:
أٙكْثِرُوْا ذِكْرٙ هٙازِمِ اللّٙذّٙاتِ
Perbanyaklah dari mengingat pemutus kelezatan (yakni mati). H.R. Tirmizi.
Namun jika penyebab tidak segera dihentikannya kemaksiatan itu karena putus asa dari rahmat atau pengampunan Allah SWT yang disebabkan besarnya dosa, atau karena membayangkan siksaan Allah SWT,
Allah SWT berfirman:
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir (Q.S. Yusuf: 87)
Obat yang mujarab dalam hal ini dalah dengan mengingat keluasan kasih sayangnya Allah yang tanpa batas. agar tidak berputus asa dari pengampunan-Nya.
Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q. S. Az-Zumar: 53)
Rasulullah SAW bersabda:
والّٙذِي نٙفْسِي بِيٙدِهِ لٙوْ لٙمْ تُذْنِبُوْا لٙذٙهٙبٙ اللّٰهُ بِكُمْ وٙلٙجٙاءٙ بِقٙوْمٍ يُذْنِبُوْنٙ فٙيٙسْتٙغْفِرُوُنٙ اللّٰهٙ فٙيٙغْفِرُ لٙهُمْ
Demi Tuhan yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, andaikan kalian tidak berbuat dosa,pastilah Allah akan membinasakan kalian, dan pastiilah Allah akan mendatangkan kaum yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampunan, kemudian Allah mengampuni mereka (H.R. Muslim).
______________
Nafsu berbagi 4 Macam:
1. Nafsu Ammarah, yaitu nafsu yang selalu mengajak pada kemaksiataan, tidak pernah diperangi, mengikuti tuntutan syahwat dan ajakan syaithan.
2. Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang bersinar dengan cahaya hati, sesuai dengan kadar kesadaranyan. Manakala berbuat salah, dia akan mencaci nafsu dan bertaubat.
3. Nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang sempurna sinarnya dengan cahaya hati, hingga sifat-sifat tercela hilang, dan memakai akhlak-akhlak terpuji.
4. Nafsu Ruhaniyyah, yaitu nafsu yang condong pada perkara mubah, seperti rekreasi, mendengar suara indah, makan makanan enak. Prof. Dr. Sahal Mahfudz, Thariqah Al-Hushul, vol II, hal. 610.







