[cerpen] Khitbah Di Ujung Sajadah

Seorang gadis duduk terpekur di depan sebuah cermin. Menatap lurus pada wajahnya yang terpantul.

“Apakah aku cantik?” tanyanya pada cermin. Gejolak batin sedang memburu. Selalu dan selalu itu yang

dia pertanyakan. Menanti sebuah jawab yang dia sendiri tidak tahu.
“Lia…!! Tiba-tiba sebuah panggilan dari luar kamar membuyarkan lamunanya.
“Iya, ada apa Her?” balas Lia, dia sudah hafal betul bila panggilan tadi dari Hera, teman satu kosnya.
“Ada telepon dari Ibumu.”
“Oh, iya. Aku segera keluar.” Sahutnya kemudian.
Lia adalah gadis perantaun, nama lengkapnya Aulia Medina. Dia memilih sekolah di kota lain, yang

berjauhan dengan orang tuanya. Di Kota Magelang, dia memilih salah satu sekolah terbaik di kota

tersebut.
“Assalamualaikum…”
“Walaikumsalam, apakabar, Nak, Ibu merindukanmu.” Tutur suara perempuan di seberang telepon.
“Alhamdulilah, Lia baik dan sehat, Bu.”
“Sekolahmu?Kapan ujian, sayang?” tanya Ibunya penuh kelembutan.
“Insya Alloh, bulan depan sudah mulai persiapan ujian akhir. Bagaimana kabar ayah, Bu?” balasnya balik

bertanya.
“Alhamdulilah, ayah juga sehat, Nak.”
“Lia mohon doanya ya, Bu. Semoga lulus dengan nilai baik.” Pintanya sebuah dukungan doa.
“Insya Alloh, Ibu dan Ayah selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jaga diri baik-baik dan jangan lupa

ibadahnya, sayang.” Nasehat Ibunya sebelum pembicaran itu diakhiri.

Klik.
Setelah meletakkan gagang telepon, Lia ingin kembali kekamarnya. Namun tiba-tiba Hera kembali

memanggilnya dari dapur.
“Lia, kesini sebentar!”
“ Ada apa lagi, Her?”
“Bantuin aku bikin sandwich dong…!” pinta gadis berambut sebahu.
“Buat siapa?” tanya Lia heran. Tidak biasanya Hera mau berepot-repot di dapur.
“Hmm..ada dech, cepet bantuin dulu.” Balasnya tetapmemohon sambil memasang senyum ramah.
Dua orang gadis sedang sibuk membuat sandwich. Hera dan Lia sahabat yang kompak. Layaknya

saudara sendiri. Sama-sama jauh dari orang tua demi menempuh pendidikan yang lebih baik untuk

masa depan. Persahabatan yang tidal mengenal tingkat sosial dan juga fisik.
***
Hera tiba-tiba terbangun oleh suara isak yang tak jauh dari tempat tidurnya. Matanya masih tampak

menyipit. Namun samar-samar dia tersadar, darimana asal suara isak tersebut.
“Masya Alloh, Lia” pekiknya melihat sahabat terpekur dengan isak tertahan di atas sajadah. Kini Hera

bisa membuka matanya agak lebar, meski uapan kantuk masih menghias bibirnya yang tipis. Hera

bangkit dari tempat tidur dan beranjak mendekati Lia. Hati-hati.
“Ada apa denganmu, Lia?” tanyanya lembut dan pelan. Hera pun akhirnya duduk bersujud di sebelah

Lia.
“Aku harus bagaimana?” balas Lia dengan suara parau karena isaknya.
“Apa yang terjadi, ceritakanlah, Lia. Aku siap menjadi pendengar bila kamu tidak keberatan.” Ujarnya

menanti persetujuan Lia.
“Dia melamarku..!” sahutnya pasrah.
“Dia?Siapa?” ganti Hera memburu dengan pertanyaan.
Aulia, seorang gadis yang ramah, pendiam namun dibalik sikap diamnya. Dia mempunyai keceriaan bila

telah berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya, termasuk sahabat baiknya Hera. Maka tidaklah

heran, bila Hera pun tak banyak tahu dan mengerti kalau Lia selalu pandai menyembunyikan suasana

hatinya. Lia bisa saja tersenyum dan tertawa bahagia dihadapanya, namun tak ayal tiba-tiba diam

dengan ekspresi yang dingin. Sehingga tak banyak teman-temannya yang berani mendekatinya bila

keadaannya seperti itu.
“Dia laki-laki yang telah menungguku sekian tahun.” JawabLia menjelaskan.
“Iya, tapi siapa namanya, Li? Tanya Hera lagi penasaran.
Lia masih membisu di atas sajadahnya yang membentang.
“Kak Farid, kakak kelas waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku mesti gimana, Hera

tampak menghela nafas, berfikir sejenak untuk mendapatkan jawaban pertanyaan Lia.
“Keputusanya terserah padamu, Li. Kamu sudah siap atau belum? Sudah istikarah? Serahkan pada

Alloh!” balasnya kemudian membiarkan Lia berfikir lebih bijak.
Gadis itu kian tertunduk. Akankah melewatkan kesempatan yang mulia itu? Menyempurnakan setengah

dien-Nya. Tapi hatinya masih galau. Pikiran masih dipenuhi seribu tanya yang belum terpecahkan

jawabannya. Kenapa mesti dia? Apa istimewanya?
***
Sejak kejadian itu, Hera tak akan merasa heran, bila sepertiga malam. Mendengar dan melihat Lia

selalu dan selalu terisak dalam bentangan sajadah-Nya. Mengingat keputusan itu tidak bisa dipandang

sebelah mata. Di satu sisi, Aulia harus mempersiapkan pikiranya menghadapi ujian agar meraih nilai

terbaik seperti impiannya selama ini. Akan tetapi sisi lain, harus memberi jawaban atas permohonan

khitbah pangeran yang menunggunya bertahun-tahun. Dalam kesendirian dan rutinitasnya. Tak ada

tempat yang pemuda itu beri kesempatan untuk gadis lain hingga dia lulus kuliah di Fakultas Ekonomi,

jurusan Manajemen di kota Yogja. Sebagai sahabat, Hera hanya menyarankan apa yang kiranya bisa Lia

lakukan. Hera mengerti , bagaimana Lia mengadapi masalah ini.
***
Di sudut kota Yogja, seorang pemuda menanti dengan cemas jawaban itu. Jawaban yang akan

mengantarkanya pada tanggung jawab lebih besar. Perjanjian yang tidak akan main-mian dijalaninya.

Keputusan itu telah dia pendam bertahun-tahun, hanya untuk seorang gadis manis dan sederhana dalam

balutan jilbab panjangnya. Tiap jengkal waktu yang dia punya selalu terjaga untuk ibadah. Suatu

kebiasaan yang tak pernah ditinggalkanya. Bersimpuh di ujung sajadah dalam sepertiga malam-Nya.

Sejak mendapati senyum indah dan tatapan bening yang sempat menghujam hatinya. Menyisakan

harapan kelak dia mampu memiliknya seutuhnya.
“Lia, bersediakah menjadi teman sisa hidup kakak?” ujar Farid meminta kesediaan pada Aulia ketika

musim liburan sekolah tiba.
“Apa, Kak?” Lia berpura-pura tidak mendengar jelas pertanyaan Farid.
Pemuda itu kembali menghela nafas, sebelum mengulangi lagi pinangannya.
“Bersediakah Lia menemani sisa hidup kakak?” Jelas. Tegas terucap.
Aulia membisu. Bibirnya kelu untuk mengucap kata meski hanya Ya atau Tidak. Ribuan kata yang biasa

dia rangkai dalam cerita-ceritanya seakan hilang tertelan di dasar bumi. Keceriaan yang biasa dia bagi

pun meredup. Lia tidak pernah bermimpi, bahwa teman masa kecilnyalah yang akan meminangnya

menjadi bagian hidup pemuda itu.
Dia masih ingat lelucon-lelucon yang sempat membuatnya tergelak ketika kecil. Seakan mengaung

ditelinganya. Berkejaran diantara waktu yang menyeretnya menjadi gadis remaja, seperti sekarang.
“Boleh, Lia pikirkan dulu, Kak?” akhirnya jawaban itu yang terucap kemudian, masih dengan sikap

tertunduk. Entah, apa yang sebenarnya ada dipikiran gadis berumur 19 tahun tersebut.
“Boleh!”
Kenyatan membuka lebar-lebar hati gadis itu. Usianya yang masih terbilang muda, dihadapkan pada

pinangan pemuda baik hati, sopan mapan dan taat beribadah.
***
Magelang cerah. Hati Aulia menjadi bahagia karena rasa haru, telah melewati masa-masa ujian dan

kelulusanya. Rasa bangga kedua orang tuanya tersirat di depan mata. Aulia, anak perempuan

satu-satunya telah menoreh prestasi baik. Tidak menyia-yiakan amanah orang tua dan kakak

laki-lakinya yang telah berkeluarga. Demikian juga dengan Hera, sahabatnya. Persahabatan mereka

ibarat kepompong. Kekhawatiran yang sempat terselip dihati Hera dengan masalah Lia, tak terbukti.

Tidak mempengaruhi prestasi Lia pada akhirnya. Namun, yang pasti Hera pun menanti keputusan apa

yang akan Lia ambil mengenai pinangan Farid. Yang masih dibuatnya menggantung. Namun menjadi

hiasan di setiap rentetan doa di ujung sajadah.
Aulia kembali membasah dengan isak yang tersisa. Kini dia harus memberi jawaban akan keputusan

Farid, memilihnya menjadikan dia permata di hati pemuda itu. Interaksinya dengan Sang Pemberi

Cinta, tak pernah terlewatkan sedikitpun.
“Ya Alloh, bila hamba adalah tulang rusuk yang Engkau ciptakan untuknya. Hanya satu pinta hamba-Mu

ini, Berikan keridhoan-Mu didalamnya. Bila dia yang terbaik menurut-Mu. Satukan kami dalam

perjanjian-Mu yang suci dan menjadikan hamba halal baginya. Jadikan keluarga yang sakinah, terdapat

rahmah dan mawaddah dalam mengarunginya.”
Di sudut kantor, seorang pemuda terharu membaca sebuah email berisi jawaban dari bidadari yang

dipinangnya tempo hari. Jawaban yang membuatnya merunduk mengucap syukur di ujung sajadah.
“Terima kasih Ya Alloh, nikmat-Mu mana lagi yang bisa hamba dustakan. Engkau izinkan kami bersatu

meneruskan perjuangan hingga kelak hamba berharap dia bisa menjadi calon ibu yang baik bagi

mujahid dan mujahidah hamba..Amiin..”
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh, bila telah berkehendak. Rasa ragu yang memenuhi benak

Aulia terjawab di ujung sajadah-Nya.


EmoticonEmoticon