Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Seorang Yang Ahli Dalam Ibadah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia mengisahkan, Rasulullah SAW bersabda, "dahulu, ada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil barnama Juraij, setiap hari ia menyepi di sebuah tempat pribadinya". Suatu hari ketika ia sedang menunaikan shalat, ibunya datang dan memanggilnya. "Wahai Juraij, kemarilah!".

Mendengar panggilan ibunya, Juraij pun menjadi bimbang dan bertanya dalam hati, "Ya Rabbi, manakah yang aku dahulukan, ibuku atau shalatku?" Akhirnya ia memilih untuk tetap shalat dan ibunya pergi meninggalkannya.

Kisah Seorang Yang Ahli Dalam Ibadah

Keesokan harinya, sang ibu kembali mendatanginya dan memanggilnya, "Juraij, kemarilah!". Juraij pun merasa bimbang dan bertanya dalam hati, "Ya Rabbi, manakah yang harus aku dahulukan, ibuku ataukah shalatku?" akhirnya ia tetap memilih untuk melanjutkan shalatnya dan membiarkan ibunya pergi meninggalkannya.

Lusanya ibunya mendatanginya lagi dan memanggilnya, "Juraij, kemarilah!" Juraij pun merasa bimbang dan bertanya dalam hatinya, "Ya rabbi, manakah yang harus aku dahulukan, ibuku ataukah shalatku?" Akhirnya ia memilih untuk melanjutkan shlatnya. Si ibu merasa tersinggung dan berdoa, "Ya Allah, janganlah engkau memanggilnya keharibaan-Mu kecuali setelah ia dipermalukan wanita pelacur."

Sementara itu, ketenaran Jurai dalam kesalehan ibadahnya telah tersebar dikalangan orang-orang Bani Israil dan merasa sering menyebut-nyebutnya dalam percakapan mereka.

Suatu ketika, ada seorang wanita pelacur, berparas cantik berkata kepada orang-orang Bani Israil, "jika kalian mengijinkan, aku bisa menjatuhkan nama baiknya (menguju keimanannya)."

Kemudian wanita pelacur itu pergi ke tempat Juraij. Ia mencoba merayunya dengan segala cara, namun Juraij tidak terpengaruh sedikitpun oleh rayuan wanita itu. Setelah gagal merayunya, pelacur itu lalu menemui seorang pengembala yang kebetulan lewat di jalan menuju kearah tempat peribadatan Juraij. Pelacur itu menyerahkan diri kepada si pengembala dan berzina dengannya.

Beberapa waktu kemudian, wanita pelacur itu hamil dan melahirkan anak. Setelah kelahiran anaknya ia berkata kepada orang-orang Bani Israil, "Anak yang ku bawa ini adalah hasil hubunganku dengan Juraij."

Mendengar ucapannya, orang-orang Bani Israil kemudian menggerebek Juraij dan menyeretnya turun dari tempat peribadatannya. Mereka meruntuhkan tempat tersebut hingga rata dengan tanah dan memukuli Juraij bertubi-tubi.

Juraij pun berteriak dan berkata, "ada apa gerangan dengan kalian sehingga kalian memukuliku seperti ini?" mereka menjawab, "engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini hingga ia melahirkan anakmu." Juraij bertanya kepada mereka, "Dimana bayinya?" orang-orang lantas mendatangkan bayi tersebut ke hadapannya. Pada saat Juraij meminta waktu kepada ,mereka, "ijinkan aku untuk shalat sejenak."

Lalu ia menunaikan shalat, setelah ia usai dari shalatnya ia menghampiri bayi itu. Ia menekan bagian pusar dari bagian perut si bayi dan bertanya, "Wahai bayi, siapa sebenarnya ayahmu?" bayi itu menjawab, "si fulan pengembalan,"

Mendengar keajaiban tersebut, orang-orang yang menyaksikan menghampiri Juraij dan mencium serta mengusap-usap tubuhnya. Mereka meminta maaf dan berjanji, "kami akan membangun kembali untukmu tempat peribadatanmu dari emas."

Namun Juraij menolak tawaran mereka, "tidak perlu itu! dirikanlah tempat peribadatanku ini dengan tanah sebagaimana semula. Kemudian mereka pun membangun kembali tempat itu sesuai keinginannya." 

Kasiat Dibalik Membaca Bismillah

Kasiat Dibalik Membaca Bismillah- Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerjakan kewajiban agama dan tidak mahu berbuat kebaikan.

Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan senantiasa memperolok-olokkan isterinya.

Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."
Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."

Kasiat Dibalik Membaca Bismillah

Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan wang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.

Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."

Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.

Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.


Kejujuran dan Wira’nya Abu Hanifah

Kejujuran dan Wira’inya Abu Hanifah

Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota Kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

”Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai," tawar imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

”Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengembalikannya

”Berapa harganya?” tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”lmam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

“Sayang sekali." perempuan itu tampak kecewa.
”Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”
“Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja."
"Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,” katanya.
"Tidak apa-apa, terima kasih,” sahut lmam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka serinS menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. lmam Hanafi lalu menghampirinya.

“Silakan, baju itu bahannya halus sekaliHarganya pun tak begitu mahal."
“Memang, saya pun sangat menyukainya.” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. ”Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini-orang miskin,” katanya lagi.
Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,” kata Imam Hanafi.
“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”
“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.” Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.
"Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu, Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain Vang ada cacatnya itu.

“Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja," kata Imam Hanafi. SahabatnYa mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.
Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

"Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang," kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi. “Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh."sahabatnya sangat menyesal.
Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yangmembeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

”Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya,“ ucap Imam Hanafi.
Sampai larut malam, imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

'Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,” ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.
“Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya? ” tanyanya.
"Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.
Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya. Subhanallah...

[cerpen] Khitbah Di Ujung Sajadah

Seorang gadis duduk terpekur di depan sebuah cermin. Menatap lurus pada wajahnya yang terpantul.

“Apakah aku cantik?” tanyanya pada cermin. Gejolak batin sedang memburu. Selalu dan selalu itu yang

dia pertanyakan. Menanti sebuah jawab yang dia sendiri tidak tahu.
“Lia…!! Tiba-tiba sebuah panggilan dari luar kamar membuyarkan lamunanya.
“Iya, ada apa Her?” balas Lia, dia sudah hafal betul bila panggilan tadi dari Hera, teman satu kosnya.
“Ada telepon dari Ibumu.”
“Oh, iya. Aku segera keluar.” Sahutnya kemudian.
Lia adalah gadis perantaun, nama lengkapnya Aulia Medina. Dia memilih sekolah di kota lain, yang

berjauhan dengan orang tuanya. Di Kota Magelang, dia memilih salah satu sekolah terbaik di kota

tersebut.
“Assalamualaikum…”
“Walaikumsalam, apakabar, Nak, Ibu merindukanmu.” Tutur suara perempuan di seberang telepon.
“Alhamdulilah, Lia baik dan sehat, Bu.”
“Sekolahmu?Kapan ujian, sayang?” tanya Ibunya penuh kelembutan.
“Insya Alloh, bulan depan sudah mulai persiapan ujian akhir. Bagaimana kabar ayah, Bu?” balasnya balik

bertanya.
“Alhamdulilah, ayah juga sehat, Nak.”
“Lia mohon doanya ya, Bu. Semoga lulus dengan nilai baik.” Pintanya sebuah dukungan doa.
“Insya Alloh, Ibu dan Ayah selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jaga diri baik-baik dan jangan lupa

ibadahnya, sayang.” Nasehat Ibunya sebelum pembicaran itu diakhiri.

Klik.
Setelah meletakkan gagang telepon, Lia ingin kembali kekamarnya. Namun tiba-tiba Hera kembali

memanggilnya dari dapur.
“Lia, kesini sebentar!”
“ Ada apa lagi, Her?”
“Bantuin aku bikin sandwich dong…!” pinta gadis berambut sebahu.
“Buat siapa?” tanya Lia heran. Tidak biasanya Hera mau berepot-repot di dapur.
“Hmm..ada dech, cepet bantuin dulu.” Balasnya tetapmemohon sambil memasang senyum ramah.
Dua orang gadis sedang sibuk membuat sandwich. Hera dan Lia sahabat yang kompak. Layaknya

saudara sendiri. Sama-sama jauh dari orang tua demi menempuh pendidikan yang lebih baik untuk

masa depan. Persahabatan yang tidal mengenal tingkat sosial dan juga fisik.
***
Hera tiba-tiba terbangun oleh suara isak yang tak jauh dari tempat tidurnya. Matanya masih tampak

menyipit. Namun samar-samar dia tersadar, darimana asal suara isak tersebut.
“Masya Alloh, Lia” pekiknya melihat sahabat terpekur dengan isak tertahan di atas sajadah. Kini Hera

bisa membuka matanya agak lebar, meski uapan kantuk masih menghias bibirnya yang tipis. Hera

bangkit dari tempat tidur dan beranjak mendekati Lia. Hati-hati.
“Ada apa denganmu, Lia?” tanyanya lembut dan pelan. Hera pun akhirnya duduk bersujud di sebelah

Lia.
“Aku harus bagaimana?” balas Lia dengan suara parau karena isaknya.
“Apa yang terjadi, ceritakanlah, Lia. Aku siap menjadi pendengar bila kamu tidak keberatan.” Ujarnya

menanti persetujuan Lia.
“Dia melamarku..!” sahutnya pasrah.
“Dia?Siapa?” ganti Hera memburu dengan pertanyaan.
Aulia, seorang gadis yang ramah, pendiam namun dibalik sikap diamnya. Dia mempunyai keceriaan bila

telah berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya, termasuk sahabat baiknya Hera. Maka tidaklah

heran, bila Hera pun tak banyak tahu dan mengerti kalau Lia selalu pandai menyembunyikan suasana

hatinya. Lia bisa saja tersenyum dan tertawa bahagia dihadapanya, namun tak ayal tiba-tiba diam

dengan ekspresi yang dingin. Sehingga tak banyak teman-temannya yang berani mendekatinya bila

keadaannya seperti itu.
“Dia laki-laki yang telah menungguku sekian tahun.” JawabLia menjelaskan.
“Iya, tapi siapa namanya, Li? Tanya Hera lagi penasaran.
Lia masih membisu di atas sajadahnya yang membentang.
“Kak Farid, kakak kelas waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku mesti gimana, Hera

tampak menghela nafas, berfikir sejenak untuk mendapatkan jawaban pertanyaan Lia.
“Keputusanya terserah padamu, Li. Kamu sudah siap atau belum? Sudah istikarah? Serahkan pada

Alloh!” balasnya kemudian membiarkan Lia berfikir lebih bijak.
Gadis itu kian tertunduk. Akankah melewatkan kesempatan yang mulia itu? Menyempurnakan setengah

dien-Nya. Tapi hatinya masih galau. Pikiran masih dipenuhi seribu tanya yang belum terpecahkan

jawabannya. Kenapa mesti dia? Apa istimewanya?
***
Sejak kejadian itu, Hera tak akan merasa heran, bila sepertiga malam. Mendengar dan melihat Lia

selalu dan selalu terisak dalam bentangan sajadah-Nya. Mengingat keputusan itu tidak bisa dipandang

sebelah mata. Di satu sisi, Aulia harus mempersiapkan pikiranya menghadapi ujian agar meraih nilai

terbaik seperti impiannya selama ini. Akan tetapi sisi lain, harus memberi jawaban atas permohonan

khitbah pangeran yang menunggunya bertahun-tahun. Dalam kesendirian dan rutinitasnya. Tak ada

tempat yang pemuda itu beri kesempatan untuk gadis lain hingga dia lulus kuliah di Fakultas Ekonomi,

jurusan Manajemen di kota Yogja. Sebagai sahabat, Hera hanya menyarankan apa yang kiranya bisa Lia

lakukan. Hera mengerti , bagaimana Lia mengadapi masalah ini.
***
Di sudut kota Yogja, seorang pemuda menanti dengan cemas jawaban itu. Jawaban yang akan

mengantarkanya pada tanggung jawab lebih besar. Perjanjian yang tidak akan main-mian dijalaninya.

Keputusan itu telah dia pendam bertahun-tahun, hanya untuk seorang gadis manis dan sederhana dalam

balutan jilbab panjangnya. Tiap jengkal waktu yang dia punya selalu terjaga untuk ibadah. Suatu

kebiasaan yang tak pernah ditinggalkanya. Bersimpuh di ujung sajadah dalam sepertiga malam-Nya.

Sejak mendapati senyum indah dan tatapan bening yang sempat menghujam hatinya. Menyisakan

harapan kelak dia mampu memiliknya seutuhnya.
“Lia, bersediakah menjadi teman sisa hidup kakak?” ujar Farid meminta kesediaan pada Aulia ketika

musim liburan sekolah tiba.
“Apa, Kak?” Lia berpura-pura tidak mendengar jelas pertanyaan Farid.
Pemuda itu kembali menghela nafas, sebelum mengulangi lagi pinangannya.
“Bersediakah Lia menemani sisa hidup kakak?” Jelas. Tegas terucap.
Aulia membisu. Bibirnya kelu untuk mengucap kata meski hanya Ya atau Tidak. Ribuan kata yang biasa

dia rangkai dalam cerita-ceritanya seakan hilang tertelan di dasar bumi. Keceriaan yang biasa dia bagi

pun meredup. Lia tidak pernah bermimpi, bahwa teman masa kecilnyalah yang akan meminangnya

menjadi bagian hidup pemuda itu.
Dia masih ingat lelucon-lelucon yang sempat membuatnya tergelak ketika kecil. Seakan mengaung

ditelinganya. Berkejaran diantara waktu yang menyeretnya menjadi gadis remaja, seperti sekarang.
“Boleh, Lia pikirkan dulu, Kak?” akhirnya jawaban itu yang terucap kemudian, masih dengan sikap

tertunduk. Entah, apa yang sebenarnya ada dipikiran gadis berumur 19 tahun tersebut.
“Boleh!”
Kenyatan membuka lebar-lebar hati gadis itu. Usianya yang masih terbilang muda, dihadapkan pada

pinangan pemuda baik hati, sopan mapan dan taat beribadah.
***
Magelang cerah. Hati Aulia menjadi bahagia karena rasa haru, telah melewati masa-masa ujian dan

kelulusanya. Rasa bangga kedua orang tuanya tersirat di depan mata. Aulia, anak perempuan

satu-satunya telah menoreh prestasi baik. Tidak menyia-yiakan amanah orang tua dan kakak

laki-lakinya yang telah berkeluarga. Demikian juga dengan Hera, sahabatnya. Persahabatan mereka

ibarat kepompong. Kekhawatiran yang sempat terselip dihati Hera dengan masalah Lia, tak terbukti.

Tidak mempengaruhi prestasi Lia pada akhirnya. Namun, yang pasti Hera pun menanti keputusan apa

yang akan Lia ambil mengenai pinangan Farid. Yang masih dibuatnya menggantung. Namun menjadi

hiasan di setiap rentetan doa di ujung sajadah.
Aulia kembali membasah dengan isak yang tersisa. Kini dia harus memberi jawaban akan keputusan

Farid, memilihnya menjadikan dia permata di hati pemuda itu. Interaksinya dengan Sang Pemberi

Cinta, tak pernah terlewatkan sedikitpun.
“Ya Alloh, bila hamba adalah tulang rusuk yang Engkau ciptakan untuknya. Hanya satu pinta hamba-Mu

ini, Berikan keridhoan-Mu didalamnya. Bila dia yang terbaik menurut-Mu. Satukan kami dalam

perjanjian-Mu yang suci dan menjadikan hamba halal baginya. Jadikan keluarga yang sakinah, terdapat

rahmah dan mawaddah dalam mengarunginya.”
Di sudut kantor, seorang pemuda terharu membaca sebuah email berisi jawaban dari bidadari yang

dipinangnya tempo hari. Jawaban yang membuatnya merunduk mengucap syukur di ujung sajadah.
“Terima kasih Ya Alloh, nikmat-Mu mana lagi yang bisa hamba dustakan. Engkau izinkan kami bersatu

meneruskan perjuangan hingga kelak hamba berharap dia bisa menjadi calon ibu yang baik bagi

mujahid dan mujahidah hamba..Amiin..”
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh, bila telah berkehendak. Rasa ragu yang memenuhi benak

Aulia terjawab di ujung sajadah-Nya.

KH. ABDUL HAMID PASURUAN


Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kyai Hamid. Oleh Kyai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kyai Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kyai Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kyai Hamid. Oleh kyai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. Kyai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.
Setiap pergi ke manapun Kyai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kyai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.
Pada suatu saat orde baru ingin mengajak Kyai Hamid masuk partai pemerintah. Kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat. Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kyai Hamid menerimanya dan menandatanganinya. Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kyai Hamid berkata: “Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”. Itulah Kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.
Inilah beberapa dari banyak karomah Kyai Hamid. Kyai Hamid adalah realita nyata tentang munculnya seorang hamba Allah yang mempunyai kekuatan ma’rifat billah yang mumpuni dan kekuatan musyahadah atas nur tajalli dengan maqam wilayah yang amat tinggi. Dan kekuatan tersebut tentu tidak mungkin beliau dapatkan dengan serta merta tanpa melalui tahapan-tahapan amaliyah dan maqamat tarekat yang beliau jalani dan beliau istiqamahkan. Setidaknya -dari sirah Kyai Hamid yang dapat kita baca-, kualitas amaliyah dan maqamat itulah yang selalu beliau pancarkan dalam setiap gerak langkah beliau. Kewara’an, kezuhudan, ketawadlu’an, kesabaran, keistiqamahan, dan riyadlah.
Dan yang jelas, kekuatan ma’rifat dan wilayah tersebut hingga saat ini telah menjadi hamparan hikmah yang maha luas dan menebarkan harum pada sanubari tiap orang yang mengenalnya. Hingga siapapun tak akan pernah kehabisan untuk mengais suri tauladan atas keagungan akhlaknya dan menempa keberkahan yang telah beliau sebarkan dalam setiap relung hati dan palung hidup kita.
Sebelum menjadi kyai, semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama asli Kyai Hamid) banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkhalwat. Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.
Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.
Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.
Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.
Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”
Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.
Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.
Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.
Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi. Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.
Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.
Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”
Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).
Tanggal 9 rabiul awal 1403 H beliau berpulang ke rahmatulloh. Umat menangis, gerak kehidupan di Pasuruan seakan terhenti. Ratusan ribu orang membanjiri Pasuruan, memenuhi relung Masjid Agung Al Anwar dan alun alun serta memadati gang dan ruas jalan. Beliau dimakamkan di belakang masjid agung Pasuruan. Ribuan umat menziarahinya setiap waktu mengenang jasa dan cinta beliau kepada umat.
Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah wirid kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain.
Diantara ijazah beliau adalah:
1. Membaca SURAT AL-FATIHAH 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang tak terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.
2. Membaca HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIL sebanyak 450 kali sehari semalam.
3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.
4. Membaca kitab DALA’ILUL KHAIRAT. Kitab yang berisi kumpulan shalawat.
5. Wirid rutin AL-WIRD AL-LATHIF dan RATIB AL-HADDAD. Dua wirid yang diajarkan oleh Kyai Hamid dan diwariskan hingga sekarang kepada para santri dan keluarganya.
#Share

KELUARGA NABI SAW DI HARI RAYA


TERHARU 
PADA saat malam Takbiran, Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan kurma. Bersama istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, Ali menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma. Terihat, Sayyidina Ali memanggul gandum, sementara istrinya Fathimah menuntun Hasan dan Husein. Mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni.
Esok harinya tiba salat ‘Idul Fitri. Mereka sekeluarga khusyuk mengikuti salat jama’ah dan mendengarkan khutbah. Selepas khutbah ‘Id selesai, keluarga Rasulullah Saw. itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.
Sahabat beliau, Ibnu Rafi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga putri Rasulullah Saw. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengang Ibnu Rafi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah itu.
Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein yang masih balita, dalam ‘Idul Fitri makanannya adalah gandum tanpa mentega, gandum basi yang baunya tercium oleh sahabat Nabi itu. Seketika Ibnu Rafi’i berucap istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rafi’i berlinang butiran bening, perlahan butiran itu menetes di pipinya.
Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Saw. Tiba di depan Rasulullah, “Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rafi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah.
“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”
“Kenapa keluargaku?”
“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”
Rasulullah Saw. pun bergegas menuju rumah Sayyidatuna Fathimah az-Zahra r.a. Tiba di teras rumah, tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya. Mata Rasulullah pun berlinang. Butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah Saw. nan suci.
Air mata Rasulullah berderai, melihat kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fitri, di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rasulullah Saw. penuh tawa bahagia dengan gandum yang baunya tercium tak sedap, dengan makanan yang sudah basi.
“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah. Di hari ‘Idul Fitri keluargaku makanannya adalah gandum yang basi. Di hari ‘Idul Fitri keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi. Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat. Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” bibir Rasulullah berbisik lembut.
Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. “Ya Abah, ada apa gerangan Abah menangis?” Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak. Surga untukmu.”
Demikianlah, menurut Ibnu Rafi’i, keluarga Rasulullah Saw. pada hari ‘Idul Fitri senantiasa menyantap makanan yang basi berbau apek. Ibnu Rafi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah Saw. agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rasulullah Saw. wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka aku ceritkan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, hlm. 232).
Ya Rasulullah, begitu mulianya hati baginda bersama keluarga. Siapa gerangan yang tak malu? Siapa orangnya yang tak kelu? Kami di hari nan fitri, makanan kami lezat-lezat, makanan kami enak-enak. Harus kami apakan diri ini, ya Rasul? Kami malu.
Ya Rasulllah, teteskan kemuliaan jiwa baginda kepada kami, teteskan walau hanya setitik, agar jiwa kami semua tiada tandus dari kasih. AAMIEN
Oleh :  Syekh Adzmad Khan